Tingkatan Materialitas
Definisi dan Peran Materialitas
Materialitas menentukan apakah kekeliruan atau kelalaian bisa memengaruhi keputusan ekonomi pengguna, sehingga menjadi landasan penilaian dan prosedur audit. Konsep ini dipandang dari sudut hukum, akuntansi, dan pengguna; penerapan praktisnya membutuhkan penilaian profesional yang menggabungkan ukuran kuantitatif dan faktor kualitatif.
- Tujuan utama Menentukan ambang yang memandu perencanaan audit, sifat dan lingkup prosedur, serta evaluasi temuan.
- Perspektif pengguna Misstatements dianggap material jika dapat memengaruhi keputusan ekonomi pengguna dari laporan keuangan.
- Penilaian profesional Auditor menggabungkan tolok ukur numerik dan penalaran kualitatif untuk menetapkan level yang sesuai dengan konteks klien.
- Auditor tidak boleh memiliki hubungan keuangan atau bisnis yang signifikan dengan klien.
- Auditor tidak boleh memberikan jasa non-audit kepada klien yang dapat merusak independensi mereka.
- Auditor harus menghindari situasi di mana mereka dapat berada di bawah tekanan untuk mengkompromikan objektivitas mereka.
Jika auditor tidak dapat mempertahankan independensinya, mereka harus menyatakan tidak memberikan pendapat atau mengundurkan diri dari perikatan audit. Dengan mengikuti standar audit dan memastikan independensi mereka, auditor dapat memberikan opini yang kredibel tentang kewajaran laporan keuangan. Opini ini sangat penting bagi pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan ekonomi yang tepat.
SPAP (2013) telah digantikan oleh Standar Audit (SA) yang diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Namun, prinsip-prinsip dasar yang diuraikan dalam SPAP (2013) tentang tujuan audit, independensi auditor, dan hubungan antar standar audit masih relevan dan berlaku dalam standar audit saat ini.
Laporan keuangan memiliki salah saji material jika mengandung kesalahan atau kecurangan yang menyebabkan laporan tersebut tidak menyajikan secara wajar dalam memenuhi kesesuaian dengan prinsip akuntansi berterima umum (Messier et al., 2014:86). Konsep materialitas menggunakan tiga tingkatan dalam mempertimbangkan jenis laporan yang harus dibuat.
Tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlahnya Tidak Material
Jika terdapat salah saji dalam laporan keuangan, tetapi cenderung tidak mempengaruhi keputusan pemakai laporan, salah saji tersebut dianggap tidak material. Dalam hal ini pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan.
2. Jumlahnya Material Tetapi Tidak Mengganggu Laporan Keuangan Secara Keseluruhan.
Tingkat materialitas kedua terjadi jika salah saji di dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi keputusan pemakai, tetapi keseluruhan laporan keuangan tersebut tersaji dengan benar, sehingga tetap berguna. Untuk memastikan materialitas jika terdapat kondisi yang menghendaki adanya penyimpangan dari laporan wajar tanpa pengecualian, auditor harus mengevaluasi segala pengaruhnya terhadap laporan keuangan.
3. Jumlah Sangat Material atau Pengaruhnya Sangat Meluas Sehingga Kewajaran Laporan Keuangan Secara Keseluruhan Diragukan.
Tingkat materialitas tertinggi terjadi jika para pemakai dapat membuat keputusan yang salah jika mereka mengandalkan laporan keuangan secara keseluruhan.
Dalam kondisi kesalahan sangat material, auditor harus memberikan pernyataan tidak memberi pendapat atau pendapat tidak wajar, tergantung pada kondisi yang ada. Dalam menentukan materialitas suatu pengecualian, harus dipertimbangkan sejauh mana pengecualian itu mempengaruhi bagian – bagian lain laporan keuangan. Ini disebut kemeluasan (pervasiveness). Salah klasifikasi antara kas dan piutang hanya akan mempengaruhi dua akun itu dan oleh karenanya tidak mempengaruhi akun lain. Di pihak lain, kelalaian mencatat penjualan yang material sangat akan mempengaruhi penjualan, piutang usaha, beban pajak penghasilan, utang pajak penghasilan, dan laba ditahan yang pada gilirannya mempengaruhi aktiva lancar, total aktiva, kewajiban lancar, total kewajiban, kekayaan pemilik marjin kotor dan laba operasi. Semakin meluas pengaruh suatu salah saji, kemungkinan untuk menerbitkan pendapat tidak wajar akan lebih besar daripada pendapat wajar dengan pengecualian. Selain itu, tanpa mempedulikan berapa jumlah materialitasnya, pernyataan untuk tidak memberikan pendapat harus diberikan apabila auditor tidak independen. Ketentuan ketat ini mencerminkan betapa pentingnya independensi yang harus dimiliki oleh seorang auditor.
Dalam menentukan materialitas suatu pengecualian, harus juga dipertimbangkan apakah pengecualian tersebut dapat mempengaruhi kemampuan pengguna laporan keuangan untuk memahami posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas. Ini disebut relevansi. Informasi yang relevan adalah informasi yang mampu mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna.
Sebagai contoh, salah saji dalam pengungkapan kebijakan akuntansi mungkin tidak material secara kuantitatif, tetapi dapat mempengaruhi relevansi laporan keuangan jika kebijakan tersebut tidak diungkapkan dengan benar. Dalam kasus seperti ini, auditor harus memberikan pendapat tidak wajar atau pernyataan tidak memberikan pendapat, tergantung pada kondisi yang ada.
Materialitas mengukur apa yang dianggap signifikan oleh peakai laporan keuangan dalam membuat keputusan ekonomis. Konsep materialitas mengakui bahwa hal-hal tertentu, terpisah atau tergabung, penting untuk pembuat keputusan ekonomis berdasarkan laporan keuangan tersebut (Tuanakotta, 2013:159). Menentukan materialitas merupakan latihan dalam kearifan profesional. Materialitas didasarkan pada persepsi auditor mengenai kebutuhan informasi keuangan secara umum dari pemakai laporan keuangan. Jika salah saji dalam laporan keuangan melebihi jumlah yang secara umum diperkirakan wajar dan dapat mempengaruhi keputusan ekonomis pemakai laporan, maka jumlah tersebut adalah material (Tuanakotta, 2013:284). Materialitas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti:
- Ukuran dan kompleksitas entitas
- Sifat dan jumlah transaksi yang terlibat
- Kemungkinan terjadinya salah saji
- Implikasi keuangan dari salah saji
- Ekspektasi pengguna laporan keuangan
Auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor ini ketika menentukan apakah suatu salah saji dianggap material atau tidak. Jika salah saji dianggap material, auditor harus mengungkapkan salah saji tersebut dalam laporan audit mereka.
SPA 320 dalam SPAP (2013) menyatakan materialitas yang ditetapkan pada tahap perencanaan audit tidak semata-mata menetukan bahwa salah saji yang tidak dikoreksi, secara individual atau gabungan di bawah materialitas tersebut, akan selalu dievaluasi tdak material. Kondisi-kondisi yang berkaitan dengan beberapa salah saji dapat menyebabkan auditor menilai salah saji tersebut sebagai salah saji material walaupun salah saji tersebut berada dibawah tingkat materialitas. Kondisi-kondisi tersebut meliputi:
- Salah saji yang bersifat kualitatif: Salah saji yang melanggar prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) atau peraturan, meskipun jumlahnya kecil.
- Salah saji yang berulang: Salah saji yang terjadi berulang kali atau menunjukkan pola yang mengkhawatirkan, meskipun jumlahnya kecil.
- Salah saji yang mempengaruhi tren: Salah saji yang mempengaruhi tren keuangan perusahaan, meskipun jumlahnya kecil.
- Salah saji yang mempengaruhi perjanjian kontraktual: Salah saji yang melanggar perjanjian kontraktual atau persyaratan pinjaman, meskipun jumlahnya kecil.
- Salah saji yang mempengaruhi reputasi: Salah saji yang dapat merusak reputasi perusahaan, meskipun jumlahnya kecil.
- Salah saji yang mempengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan: Salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan, meskipun jumlahnya kecil.
Dalam kondisi seperti ini, auditor harus mempertimbangkan dampak kualitatif dari salah saji, meskipun jumlahnya berada di bawah tingkat materialitas yang ditetapkan. Auditor harus mengevaluasi apakah salah saji tersebut dapat mempengaruhi keandalan laporan keuangan secara keseluruhan dan membuat penyesuaian yang sesuai dalam opini audit mereka.
Jenis Tingkatan Materialitas
1. Materialitas Rendah
- Kesalahan atau kelalaian memiliki dampak yang tidak signifikan terhadap laporan keuangan.
- Tidak memerlukan penyesuaian atau pengungkapan.
2. Materialitas Sedang
- Kesalahan atau kelalaian dapat mempengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan, tetapi tidak sampai tingkat yang signifikan.
- Memerlukan pengungkapan dalam catatan kaki laporan keuangan.
3. Materialitas Tinggi
- Kesalahan atau kelalaian memiliki dampak yang signifikan terhadap laporan keuangan.
- Memerlukan penyesuaian terhadap laporan keuangan.
Faktor yang Mempengaruhi Penentuan Materialitas
- Ukuran dan kompleksitas entitas
- Kondisi keuangan entitas
- Sifat dan jumlah transaksi
- Pengaruh pada tren keuangan
- Ekspektasi pengguna laporan keuangan
Proses Penentuan Materialitas
- Identifikasi potensi kesalahan atau kelalaian.
- Evaluasi dampak kesalahan atau kelalaian pada laporan keuangan.
- Pertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi materialitas.
- Tentukan tingkat materialitas yang tepat.
Pentingnya Materialitas
- Membantu auditor dalam memfokuskan upaya mereka pada area yang paling penting.
- Memastikan bahwa laporan keuangan memberikan informasi yang relevan dan andal.
- Memberikan dasar untuk pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan.
Materialitas di audit dibagi menjadi materialitas keseluruhan, materialitas pelaksanaan, dan ambang salah saji sepele; penetapannya menggabungkan tolok ukur kuantitatif (mis. laba sebelum pajak, pendapatan, aset) dan pertimbangan kualitatif seperti risiko dan kompleksitas entitas. Praktik umum menggunakan persentase aturan praktis dan penyesuaian profesional berdasarkan risiko audit.
Materialitas Keseluruhan
Materialitas keseluruhan adalah angka yang mewakili ambang material untuk laporan keuangan sebagai satu kesatuan dan menjadi basis perencanaan audit. Auditor besar cenderung menggunakan tolok ukur kuantitatif yang konsisten seperti laba sebelum pajak, total aset, pendapatan, atau ekuitas sebagai basis penetapan materialitas keseluruhan.
- Tolok ukur kuantitatif umum Misalnya laba sebelum pajak, total aset, pendapatan, atau ekuitas digunakan sebagai dasar pilihan angka materialitas keseluruhan.
- Aturan praktis Banyak praktik mengacu pada persentase sederhana dari tolok ukur (contoh klasik: sekitar 5% dari laba sebelum pajak sebagai aturan praktis yang sering dikutip).
- Penyesuaian Angka awal berdasarkan tolok ukur tersebut kemudian disesuaikan menurut konteks entitas dan risiko khusus audit.
Materialitas pelaksanaan dan penentuannya
Materialitas pelaksanaan (tolerable misstatement) adalah ambang yang lebih rendah daripada materialitas keseluruhan dan dipakai untuk merencanakan dan melaksanakan prosedur pada tingkat akun atau saldo. Kantor akuntan besar umumnya menetapkan persentase tertentu dari materialitas keseluruhan untuk menentukan materialitas pelaksanaan, dan rentang penyesuaian praktik dapat bervariasi sesuai penilaian risiko.
- Rasio terhadap keseluruhan Auditor mengaplikasikan persentase dari materialitas keseluruhan untuk menentukan tolerable misstatement; kebijakan firma menunjukkan konsistensi dalam persentase yang digunakan namun nilainya berbeda antar kasus.
- Rentang praktik Studi praktik menunjukkan bahwa persentase yang diterapkan dapat berkisar secara luas bergantung tingkat risiko—misalnya persentase pelaksanaan yang efektif sering berada dalam kisaran yang lebih tinggi untuk risiko rendah dan lebih rendah untuk risiko tinggi.
- Faktor penentu Penentuan dipengaruhi oleh ukuran klien, kualitas pengendalian intern, kompleksitas operasi, dan jenis transaksi; auditor Big‑5 cenderung memilih materialitas perencanaan yang lebih rendah daripada firma lain.
Ambang untuk salah saji yang tidak dikoreksi dan evaluasi temuan
Ambang untuk salah saji yang tidak dikoreksi atau “clearly trivial” adalah batas di bawah mana auditor menganggap salah saji terlalu kecil untuk diperlakukan sebagai temuan yang perlu dikoreksi atau dilaporkan. Firma besar memiliki panduan konsisten mengenai apa yang dianggap sepele, dan evaluasi akhir selalu memasukkan pertimbangan kualitatif serta risiko kesalahan yang belum terdeteksi.
- Definisi praktis Banyak firma menyediakan ambang “clearly trivial” sebagai proporsi yang lebih kecil dari materialitas pelaksanaan atau keseluruhan menurut pedoman internal.
- Evaluasi agregasi Auditor mengagregasi salah saji yang terdeteksi dan menilai apakah jumlah dan sifatnya mengubah kesimpulan tentang kewajaran laporan keuangan, termasuk mempertimbangkan kemungkinan salah saji yang belum terdeteksi.
- Pertimbangan kualitatif Faktor seperti kemungkinan penipuan, manajemen memberi insentif untuk manipulasi, transaksi yang tidak rutin, atau kepatuhan regulatori dapat membuat salah saji kecil menjadi material secara substansial.
- Komunikasi dan ekspektasi Pengguna laporan dan auditor sering memiliki kesenjangan ekspektasi; pengungkapan ambang materialitas oleh auditor di laporan audit diusulkan sebagai cara memperkecil kesenjangan tersebut.
REFERENSI
-
Athira, A., & Baag, P. K. (2021). Literature Review on Methodological Aspects of Audit Independence & Materiality Perspective. The International Journal of Management, 15(2), 73. https://doi.org/10.26573/2021.15.2.1
-
Avi, M. S. (2022). Materiality and Relevance in Financial Reporting. Interpretation Problems and Solutions Adopted Internationally. International Journal of Accounting and Finance Studies, 5(2), p1. https://doi.org/10.22158/ijafs.v5n2p1
- International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB). (2017). ISA 320: Materiality in Planning and Performing an Audit.
-
Joddi, F. D., & Sukarmanto, E. (2023). Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Pengalaman Auditor terhadap Pertimbangan Materialitas. Bandung Conference Series Accountancy, 3(2), 857–863. https://doi.org/10.29313/bcsa.v3i2.8498
-
Ostapenko, Y. (2024). Materiality Level in the Audit of Financial Statements and Its Impact on the Auditor’s Professional Judgment. Oblìk ì Fìnansi, 4(106), 69–75. https://doi.org/10.33146/2307-9878-2024-4(106)-69-75
-
Safonova, M. F., & Korovina, K. G. (2020). Assessing the materiality threshold and scope of auditing procedures: The sector-specific approach. Intelligenza Artificiale, 23(6), 683–700. https://doi.org/10.24891/IA.23.6.683
- Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (2013), diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
- Tuanakotta, Theo. 2013. Audit Berbasis Risiko. Jakarta: Salemba Empat.
-
Vance, D. E. (2022). A Meta Analysis of Materiality Studies. Accounting and Finance Research, 11(1), 1. https://doi.org/10.5430/afr.v11n1p1
-
Zhutyaeva, S., Zakroyskaya, P. V., & Lazareva, N. A. (2025). Qualitative criteria for determining materiality in financial statements. Èkonomika i Upravlenie: Problemy, Rešeniâ, 7/3(160), 154–163. https://doi.org/10.36871/ek.up.p.r.2025.07.04.017
