Pengertian Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Kegunaan dan Sejarah SAK

Pemakai laporan keuangan mendasarkan keputusan-keputusan mereka atas hasil analisis terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan (financial statement). informasi keuangan biasanya ditujukan untuk kepentingan umum berbagai para pemakai. Karena itu, laporan keuangan yang disajikan perusahaan harus mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Dalam menyongsong era globalisasi, dengan mengantisipasi International Accounting Standards (IAS) akan semakin mendapatkan pengakuan dan berperan penting, maka Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) telah mengambil inisiatif untuk mengubah PAI yang berlandaskan pada US GAAP menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berorientasi pada IAS yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Coinmittee (IASC).

Pengertian Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar Akuntansi Keuangan adalah rangka aturan dan interpretasi yang disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan untuk penyusunan laporan keuangan yang konsisten dan dapat dibandingkan antar entitas. Buku pedoman SAK menjelaskan keseluruhan standar dan interpretasinya serta penerapan praktisnya untuk penyajian laporan keuangan sesuai ketentuan lembaga standar nasional.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan  agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984.  SAK di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti, IAS, IFRS, ETAP, GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.

SAK yang Telah Berlaku Sekarang

Standar Akuntansi Keuangan adalah SAK yang telah berlaku sekarang, Dengan SAK yang telah terkonvergensi ke IFRS diharapkan akan memberikan perpektif pemahaman yang sama bagi investor asing dalam membaca laporan keuangan perusahaan Indonesia ataupun investor Indonesia yang ingin ekspansi ke luar negeri.

Dengan SAK yang telah terkonvergensi ke IFRS, maka laporan keuangan perusahaan Indonesia akan disajikan dengan menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama dengan laporan keuangan perusahaan-perusahaan di negara lain yang juga menggunakan IFRS. Hal ini akan memudahkan investor asing untuk memahami laporan keuangan perusahaan Indonesia dan membuat keputusan investasi yang tepat.

Selain itu, konvergensi SAK ke IFRS juga akan memudahkan investor Indonesia yang ingin berekspansi ke luar negeri. Dengan menggunakan SAK yang sama, investor Indonesia tidak perlu lagi menyesuaikan laporan keuangan perusahaan mereka dengan standar akuntansi yang berlaku di negara tujuan investasi.

Dengan demikian, konvergensi SAK ke IFRS diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi Indonesia bagi investor asing dan memudahkan investor Indonesia untuk berekspansi ke luar negeri.

Beberapa manfaat konvergensi SAK ke IFRS, antara lain:

  • Meningkatkan kualitas laporan keuangan
  • Meningkatkan daya banding laporan keuangan
  • Meningkatkan kepercayaan pengguna laporan keuangan
  • Meningkatkan daya tarik investasi
  • Memudahkan perbandingan laporan keuangan antarperusahaan
  • Memudahkan pengambilan keputusan oleh pengguna laporan keuangan
  • Memudahkan ekspansi perusahaan ke luar negeri

Tujuan SAK dan IAS

Tujuan SAK dan IAS adalah untuk:

  • Meningkatkan kualitas laporan keuangan dengan memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan konsisten.
  • Meningkatkan daya banding laporan keuangan dengan memastikan bahwa laporan keuangan disusun menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama.
  • Meningkatkan kepercayaan pengguna laporan keuangan terhadap laporan keuangan.

Prinsip-prinsip Akuntansi yang Mendasari SAK dan IAS

SAK dan IAS didasarkan pada prinsip-prinsip akuntansi yang sama, yaitu:

  • Prinsip kesinambungan usaha
  • Prinsip pengakuan pendapatan
  • Prinsip penandingan
  • Prinsip biaya historis
  • Prinsip pengungkapan penuh

Perbedaan antara SAK dan IAS

Meskipun SAK dan IAS didasarkan pada prinsip-prinsip akuntansi yang sama, namun terdapat beberapa perbedaan antara keduanya. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain:

  • SAK lebih rinci daripada IAS.
  • SAK lebih menekankan pada aspek hukum dan peraturan perundang-undangan Indonesia.
  • IAS lebih menekankan pada aspek ekonomi dan bisnis.

Konvergensi SAK dan IAS

Dalam rangka meningkatkan daya banding laporan keuangan Indonesia dengan laporan keuangan negara-negara lain, Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) telah mengambil inisiatif untuk mengkonvergensikan SAK dengan IAS. Konvergensi SAK dan IAS berarti bahwa SAK akan disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang sama dengan IAS.

Konvergensi SAK dan IAS diharapkan akan selesai pada tahun 2023. Setelah konvergensi selesai, laporan keuangan Indonesia akan lebih mudah dibandingkan dengan laporan keuangan negara-negara lain.

Manfaat Konvergensi SAK dan IAS

Konvergensi SAK dan IAS memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan daya banding laporan keuangan Indonesia dengan laporan keuangan negara-negara lain.
  • Mempermudah perusahaan Indonesia untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.
  • Menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
  • Meningkatkan kualitas laporan keuangan Indonesia.
  • Memperkuat kepercayaan publik terhadap laporan keuangan Indonesia.

Tantangan Konvergensi SAK dan IAS

Konvergensi SAK dan IAS juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Perbedaan budaya dan praktik bisnis antara Indonesia dan negara-negara lain.
  • Keterbatasan sumber daya, baik dari segi keuangan maupun SDM.
  • Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang SAK dan IAS di kalangan pelaku bisnis dan akuntan di Indonesia.

Langkah-langkah yang Dilakukan untuk Mengatasi Tantangan Konvergensi SAK dan IAS

Untuk mengatasi tantangan konvergensi SAK dan IAS, pemerintah dan IAI telah melakukan beberapa langkah, antara lain:

  • Menyusun peta jalan konvergensi SAK dan IAS.
  • Menyediakan dana dan sumber daya untuk mendukung konvergensi SAK dan IAS.
  • Meningkatkan sosialisasi dan edukasi tentang SAK dan IAS kepada pelaku bisnis dan akuntan di Indonesia.
  • Memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional terkait, seperti International Accounting Standards Board (IASB).

Hubungan internasional Banyak literatur dan modul akuntansi di Indonesia menyusun SAK yang berbasiskan atau diselaraskan dengan IFRS untuk mengikuti praktik internasional dan meningkatkan comparability lintas negara.

Konvergensi SAK dan IAS merupakan langkah penting untuk meningkatkan daya banding laporan keuangan Indonesia dengan laporan keuangan negara-negara lain. Konvergensi SAK dan IAS juga akan memberikan manfaat bagi perusahaan Indonesia, investor asing, dan publik secara keseluruhan. Meskipun terdapat beberapa tantangan, pemerintah dan IAI telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya. Diharapkan konvergensi SAK dan IAS dapat selesai tepat waktu pada tahun 2023.

Kegunaan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar akuntansi diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta Memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Di Indonesia SAK yang diterapkan akan berdasarkan IFRS pada tahun 2012 mendatang. Pada PSAK-IFRS, SAK ETAPditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK Syariah diterbitkan oleh Dewan Akuntansi Syariah sedangkan SAP oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah.

Struktur SAK

SAK terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

  • Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements) adalah pedoman umum yang mengatur penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kerangka Dasar ini berisi prinsip-prinsip akuntansi yang mendasar, seperti konsep entitas ekonomi, kelangsungan usaha, dan pengukuran biaya historis.

  • Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah peraturan teknis yang mengatur pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan tertentu. PSAK disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan wajib diikuti oleh semua entitas yang menyusun laporan keuangan sesuai dengan SAK.

  • Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK)

Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) adalah penjelasan resmi dari IAI mengenai penerapan PSAK tertentu. ISAK diterbitkan untuk memberikan panduan tambahan dalam memahami dan menerapkan PSAK.

  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah peraturan teknis yang mengatur pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan tertentu yang bersifat sementara. PSAK diterbitkan oleh IAI untuk menanggapi perkembangan baru dalam dunia bisnis dan ekonomi.

  • Buletin Teknis (BT)

Buletin Teknis (BT) adalah panduan teknis yang diterbitkan oleh IAI untuk memberikan penjelasan tambahan mengenai penerapan SAK dan ISAK. BT tidak memiliki kekuatan hukum yang sama dengan PSAK dan ISAK, tetapi dapat digunakan sebagai referensi dalam menyusun laporan keuangan.

Penerapan SAK

Tujuan utama Menetapkan kaidah pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan agar laporan keuangan menggambarkan posisi dan kinerja entitas secara andal.

SAK wajib diterapkan oleh semua perusahaan yang menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum. Perusahaan yang tidak wajib menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum, seperti perusahaan kecil dan menengah, dapat menerapkan SAK secara sukarela.

Penerapan SAK memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan kredibilitas dan transparansi laporan keuangan.
  • Memudahkan perbandingan laporan keuangan perusahaan yang berbeda.
  • Membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan.
  • Memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan.

Untuk menerapkan SAK, perusahaan perlu melakukan beberapa hal, antara lain:

  • Menyusun kebijakan akuntansi yang sesuai dengan SAK.
  • Mencatat transaksi keuangan secara lengkap dan akurat.
  • Menyusun laporan keuangan sesuai dengan SAK.
  • Mengungkapkan informasi keuangan yang relevan dalam laporan keuangan.

Penerapan SAK dapat menjadi tantangan bagi perusahaan, terutama perusahaan kecil dan menengah yang tidak memiliki sumber daya yang cukup. Namun, dengan menerapkan SAK, perusahaan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dalam jangka panjang.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk menerapkan SAK secara efektif:

  • Melibatkan seluruh karyawan dalam proses penerapan SAK.
  • Mendapatkan pelatihan yang memadai tentang SAK.
  • Menggunakan perangkat lunak akuntansi yang sesuai dengan SAK.
  • Menunjuk seorang akuntan yang berpengalaman dalam SAK.
  • Melakukan review berkala terhadap kebijakan akuntansi dan laporan keuangan.

Dengan mengikuti tips-tips tersebut, perusahaan dapat menerapkan SAK secara efektif dan memperoleh manfaat yang maksimal.

Manfaat bagi perusahaan dan investor

Standar SAK mempengaruhi kualitas informasi yang dihasilkan perusahaan dan kegunaan bagi investor melalui aturan penyajian dan pengungkapan. Dengan SAK yang tepat, laporan keuangan menjadi alat yang lebih berguna bagi pengambilan keputusan internal perusahaan dan oleh pemakai eksternal seperti investor dan pemberi pinjaman.

Kegunaan praktis:

  • Bagi perusahaan Memenuhi kewajiban pelaporan, menyediakan kerangka untuk penyajian posisi keuangan, kinerja, dan arus kas yang sistematis, serta membantu transisi dari pelaporan kas ke basis akrual bagi UMKM yang mengikuti SAK EMKM.
  • Bagi investor Menyediakan informasi yang relevan untuk membuat keputusan ekonomi tentang investasi dan penilaian risiko karena laporan disusun menurut kaidah yang seragam dan diharapkan dapat diandalkan.

 Sejarah Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia

Terdapat tiga tonggak sejarah yang pernah dicapai sebelumnya dalam pengembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia:

  • Menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI berhasil melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam suatu buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).” pada tahun 1973.
  • Tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia 1984” dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia usaha.
  • Tahun 1994, setelah berlangsung selama 10 tahun IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994.” IAI mengadopsi pernyataan International Accounting Standard Committee (IASC) sebagai dasar acuan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.

Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAl) sebagai penyusun standar akuntansi keuangan yang diakui di Indonesia telah menerbitkan beberapa Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

  • Standar Akuntansi Keuangan (SAK) berbasis IFRS
  • Standar Akuntansi Keuangan Kntitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK KTAP)
  • Standar Akuntansi Keuangan Syariah (SAK Syariah)
  • Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)
  • Standar Akuntansi Keuangan Kntitas Mikro, Kecil dan Menengah (SAK KM KM)

Dalam praktiknya terdapat pembidangan akuntansi keuangan yang dapat menghasilkan laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal dan akuntansi manajemen yang dipakai untuk kepentingan manajemen perusahaan. Bidang akuntansi yang lainnya misalnya akuntansi pemerintahan, auditing, akuntansi biaya, akuntansi sektor publik.

Orang yang kompeten di bidang akuntansi bisa memilih profesi sebagai akuntan publik, akuntan internal, akuntan pemerintah dan akuntan pendidik. Beberapa standar akuntansi keuangan yang telah diterbitkan oleh DSAK 1A1 meliputi: SAK Umum, SAK ETAP, SAK Syariah, SAP, dan SAK EMKM.

Standar Akuntansi Keuangan adalah pedoman resmi untuk penyusunan laporan keuangan yang meningkatkan konsistensi dan kegunaan informasi bagi pengguna. Di Indonesia SAK telah berkembang ke beberapa versi khusus entitas kecil hingga menuju kesesuaian dengan IFRS.

Hal ini menyorot beberapa tonggak perkembangan SAK di Indonesia yang tercatat dalam literatur yang tersedia; untuk detail awal institusional seperti PAI terdapat keterbatasan bukti dalam dokumen ini sehingga keterangan awal disebutkan sebagai insufficient evidence. Insufficient evidence

Berikut perkembangan yang didukung sumber:

  • SAK ETAP Diterbitkan sebagai standar khusus untuk entitas tanpa akuntabilitas publik; SAK ETAP resmi diperkenalkan dan diimplementasikan sebagai respons kebutuhan entitas kecil yang memerlukan standar lebih sederhana, dengan penyebutan tanggal pembentukan SAK ETAP pada 19 Mei 2009 dalam kajian perbandingan standar.
  • SAK untuk UMKM Pemerintah/IAI mengembangkan SAK EMKM untuk membantu entitas mikro, kecil, dan menengah beralih ke pelaporan akrual dan memperluas akses pembiayaan dengan aturan yang lebih sederhana dibanding SAK umum.
  • SAK EP Indonesia juga mengembangkan SAK untuk entitas swasta (SAK EP) sebagai opsi bagi entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik dan membutuhkan ketentuan khusus selain ETAP.
  • Konvergensi ke IFRS Perkembangan literatur dan buku teks akuntansi di Indonesia menggambarkan arah penyesuaian SAK agar berbasis atau selaras dengan IFRS, sebagai upaya meningkatkan keseragaman dan relevansi internasional laporan keuangan.
  • Motivasi perubahan Salah satu alasan penerbitan standar yang disederhanakan adalah beban penerapan SAK umum bagi UMKM, yang memunculkan SAK-ETAP dan varian lain sebagai solusi praktis.
  • Tantangan implementasi Studi komparatif menunjukkan tantangan penerapan SAK ETAP dan kesiapan beralih ke SAK EP terkait sumber daya manusia dan sistem informasi akuntansi, sehingga dukungan pelatihan dan pembinaan dianggap krusial.

REFERENSI

  • Achyarsyah, P., Nur, M., Indriyanto, E., Digdowiseiso, K., & Che Haat, M. H. (2023). Uncovering the Lack of Public Accountability: An Application of Accounting Standards for Entities in Indonesia. International Journal of Business, Economics & Financial Studies, 1(2), 40–44. https://doi.org/10.62157/ijbefs.v1i2.20
  • Arifah, F. P., & Setyawan, S. (2022). Effect of public sector accounting implementation in fraud prevention. CASHFLOW CURRENT ADVANCED RESEARCH ON SHARIA FINANCE AND ECONOMIC WORLDWIDE, 2(1), 222–233. https://doi.org/10.55047/cashflow.v2i1.477
  • Arrasyidah, H., & Syarif, Hj. D. (2024). The Effect of Financial Literacy, Internal Control Systems, and Accounting Information Systems on the Quality of MSME Financial Statements in Bandung City. Costing, 7(4), 8160–8166. https://doi.org/10.31539/costing.v7i4.10271
  • Azahra, N. S., Hakiki, N. R. N., Rahmawati, C. H., Hermanto, O. L., Sutanto, T. H., & Rahayuningsih, S. (2024). Penerapan Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK-EMKM) Pada UMKM Pentol Kabul. Jurnal Mutiara Ilmu Akuntansi, 2(3), 01–10. https://doi.org/10.55606/jumia.v2i3.2980
  • Diyani, L. A., Kusumawati, R. D., & Oktapriana, C. (2022). Edukasi berbagai standar akuntansi keuangan di indonesia bagi pelajar sma/smk. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 6(1), 544. https://doi.org/10.31764/jmm.v6i1.6479
  • Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) Financial Accounting Standards Board (FASB), 2023.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, Jakarta, 2015.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta, 2023.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). (2023). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: IAI.
  • International Accounting Standards Board (IASB), International Accounting Standards (IAS), London, 2023.
  • International Financial Reporting Standards (IFRS) International Accounting Standards Board (IASB), 2023.
  • Janie, D. N. A., Yulianti, Y., Rosyati, R., & Saifudin, S. (2020). The implementation of indonesian accounting standards for micro, small and medium entities. Humanities and Social Sciences, 8(1), 383–388. https://doi.org/10.18510/HSSR.2020.8149
  • Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D. (2022). Intermediate accounting (12th ed.). Wiley.
  • Komaria, S. E., Suryani, M. S., & Sugiarti, N. (2022). The determine the aplication of sales accounting at the rahayu food store pagar alam. Jurnal Aktiva: Riset Akuntansi Dan Keuangan, 4(1), 71–81. https://doi.org/10.52005/aktiva.v4i1.153
  • Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI), Konvergensi Standar Akuntansi Keuangan Indonesia dengan International Accounting Standards, Jakarta, 2023.
  • Munthe, M. A. J., & Purba, M. A. (2024). Analisis Penerapan SAK EMKM dalam Penyusunan Laporan Keuangan pada Usaha Mikro Kecil Menengah di Kota Batam. El-Mal, 5(5), 3576–3587. https://doi.org/10.47467/elmal.v5i5.1675
  • Muslimah, L. (2024). Penerapan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia. Jurnal Ekonomika Dan Bisnis (JEBS), 4(5), 918–923. https://doi.org/10.47233/jebs.v4i5.2021
  • Na’imah, N., Setiawan, G., Maulida, Y., Wibowo, E. P., & Kertamanggala, L. (2025). The Development of Accounting in Indonesia. Indonesian Financial Review, 5(1), 322–341. https://doi.org/10.55538/ifr.v5i1.111
  • Nilasari, Y., & Pangestuti, D. D. (2022). Akuntansi Pesantren Berbasis Kewirausahaan Berdasarkan SAK ETAP Dengan Aplikasi Myob. Owner: Riset Dan Jurnal Akuntansi, 7(1), 458–469. https://doi.org/10.33395/owner.v7i1.1299
  • Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 33/PMK.01/2017 tentang Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.
  • Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 Revisi 2017 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2017.
  • Priatna, R. R., Fakhturohman, F., & Masrukhan, M. (2024). Penerapan Prinsip-Prinsip Dasar Konsolidasi Laporan Keuangan Pada Perusahaan Grup di Indonesia: Studi Perbandingan antara PSAK dan IFRS. Dinamika Publik, 2(4), 57–74. https://doi.org/10.59061/dinamikapublik.v2i4.827
  • Sherly, S. (2022). Comparison Analysis of Accounting Standards for Entities Without Public Accountability and Financial Standards for Private Entities of SMEs in Indonesia. International Journal of Social Science Education Communication and Economics (SINOMICS JOURNAL), 1(5), 631–640. https://doi.org/10.54443/sj.v1i5.72
  • Sukmawati, S., & Pujiningsih, S. (2022). IFRS Adoption Research in Indonesia: A Systematic Literature Review. Journal of Accounting and Investment, 23(1), 95–113. https://doi.org/10.18196/jai.v23i1.13280
  • Tripermata, L., & Putri, A. U. (2023). The importance of implementing emkm-based financial accounting standards (sak) on the preparation of financial statements in shop businesses in sukarame district, palembang. CASHFLOW CURRENT ADVANCED RESEARCH ON SHARIA FINANCE AND ECONOMIC WORLDWIDE, 2(3), 373–385. https://doi.org/10.55047/cashflow.v2i3.581
  • Ubaidillah, R., & Prasetyo, A. B. (2024). Penerapan standar akuntansi keuangan (sak) pada pt camar era mandiri: analisis kepatuhan dan dampaknya. Jurnal Ekonomi Bisnis Manajemen Akuntansi, 2(2). https://doi.org/10.70197/jebisma.v2i2.83
  • Ulya, K. L., & Rakhmawati, A. (2022). Efektivitas Implementasi SFAS No. 1 dalam Penyusunan Laporan Keuangan dan Dampaknya terhadap Standar Pelaporan. Gemilang, 2(1), 34–38. https://doi.org/10.56910/gemilang.v2i1.1710
  • Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
  • Warren, C. S., Reeve, J. M., & Duchac, J. F. (2023). Financial accounting (10th ed.). Cengage Learning.
  • Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., & Sherwood, D. H. (2023). Accounting principles (12th ed.). Wiley.
  • Yolanda, N., Izzati, D., Zahrani, V., Delani, M., & Aliah, N. (2024). Literature Study on the Application of Financial Accounting Standarts for Micro, Small and Madium-Sized Entities (Sak EMKM) to Assess the Fairness of UMKM Financial Statements. Jurnal Akuntansi, Manajemen, Dan Perencanaan Kebijakan, 2(2), 12. https://doi.org/10.47134/jampk.v2i2.492
Sumber Sochib, Buku Ajar Pengantar Akuntansi
Anda mungkin juga berminat